Orang-orang menjadi begitu luar biasa ketika mereka mulai berpikir bahwa mereka bisa melakukan sesuatu. Saat mereka percaya pada diri mereka sendiri, mereka memiliki rahasia kesuksesan yang pertama (Norman Vincent Peale)

Pageviews last month

Search This Blog

Loading...

Monday, 6 February 2012

KEHIDUPAN NABI MUHAMMAD KETIKA MASIH KECIL DAN REMAJA


Pada tanggal 12 Rabiul Awwal, tahun Gajah, Nabi Muhammad saw dilahirkan di kota Mekkah, atau tanggal 20 April 571 M. Peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang luar biasa, dimulai dengan peristiwa padamnya api di kerajaan Persia, hancurnya sesembahan batu di sana, dan penyerangan pasukan bergajah, dibawah pimpinan raja Abrahah. Ia adalah gubernur dari kerajaan Nasrani Abbessinia yang memerintah di Yaman. Tujuannya adalah untuk menghancurkan Ka’bah. Pasukan Abrahah hancur binasa oleh pasukan Ababil yang dikirim oleh Allah dengan senjata batu kerikil  yang terbakar.
Ibu Nabi Muhammad SAW bernama Siti Aminah dan Ayah beliau bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, kedua orang tuanya berasal dari silsilah yang mulia yang merupakan keturunan Jawara Tauhid (Ibrahim AS). Abdullah lahir ke dunia hanya untuk membawa nur Muhammad ke dalam rahim Aminah, Sang isteri saat itu mengandung (2 bulan) bayi yang kelak menjadi manusia besar. Setelah lama kepergian sang suami, sang isteri merasakan kesepian yang amat dalam, walaupun suaminya selalu berkirim surat. Namun pada saat lain surat tidak lagi ia terima, begitu riang hatinya ternyata ia melihat rombongan dagang suaminya telah pulang, tapi Ia amat terkejut karena tak dilihatnya suaminya, datanglah seseorang dari rombongan tersebut yang menyampaikan berita kepada Aminah, mulutnya begitu berat untuk mengucapkan kepada wanita ini, ia tidak sanggup mengutarakannya, namun akhirnya terucap juga bahwa sang suami telah berpulang ke hadirat Allah SWT dan dimakamkan di abwa.
Begitu goncang hatinnya mendengarkan hal ini, tak sanggup menahan tangisnya, ia menangis menahan sedih dan tak makan beberapa hari, namun ia bermimpi, dalam mimpinya seorang wanita datang dan berkata kepadanya agar ia menjaga bayi dalam janinnya dengan baik-baik. Ia berulang kali bermimpi bertemu dengan wanita tersebut yang ternyata adalah Maryam binti Imran (Ibu Isa as). Dalam mimpinya sang wanita mulia ini berkata : “Kelak bayi yang ada di dalam rahimmu akan menjadi manusia paling mulia sejagat raya, maka jagalah ia baik-baik hingga kelahirannya”. Ayahnya, Abdullah, meninggal dalam perjalanan dagang di Yatsrib, ketika Muhammad masih dalam kandungan. Ia meninggalkan harta lima ekor unta, sekawanan biri-biri dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman yang kemudian mengasuh Nabi.
Abdul Muthalib, kakeknya menyambut kelahiran cucunya dengan riang gembira, langsung dibawa thawaf mengelilingi Ka’bah dan diberi nama Muhammad. Muhammad disusui oleh Halimah As-Sa’diyah dari Bani Sa’ad kabilah Hawazin hingga berusia 5 tahun. Halimah As-Sa’diyah bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunyapun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya. Selama dua tahun Muhammad tinggal di sahara, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Syaima’, puterinya. Udara sahara dan kehidupan pedalaman yang kasar menyebabkannya cepat sekali menjadi besar, dan menambah indah bentuk dan pertumbuhan badannya. Muhammad diserahkan kembali pada ibunya saat berusia 5 tahun. Lalu beliau diajak ibunya pergi ke Madinah dengan maksud untuk diperkenalkan pada keluarga neneknya Bani Najjar dan untuk menziarahi makam ayahnya.Dalam perjalanan pulang dari Madinah itu sang ibu Siti Aminah sakit lalu wafat di suatu tempat yang bernama Abwa’ dan dimakamkan juga di sana, ketika itu beliau berusia 6 tahun.
Selesai pemakaman ibunya, beliau meneruskan perjalanan pulang bersama kakeknya, Abdul Muthalib. Dan selanjutnya beliau diasuh oleh kakeknya sampai berumur 8 tahun. Kakeknya amat sayang kepada Muhammad karena Muhammad adalah seorang yatim piatu. Nabi Muhammad adalah keturunan Qusyai pahlawan suku Quraisy dari golongan Arab Bani Ismail.
Setelah kepergian sang kakek, Muhammad  diasuh oleh pamannya, Abu Tholib, putra Abdul Mutholib yang pertama menyatakan keimanannya kepada kemenakannya sendiri (Muhammad). Saat berusia 12 tahun, beliau ikut pamannya Abu Thalib menggembala kambing disekitar Mekkah dan kerap menemani pamannya dalam urusan dagangnya ke negeri Syam (Syiria , Libanon dan Palestina). Pada waktu itu sang paman dan beliau bertemu dengan seorang pendeta nasrani yang sangat alim bernama Buhaira. Pendeta itu mengetahui tanda-tanda kenabian atas diri Nabi Muhammad SAW melalui kitab Taurat dan Injil. Ia berpesan pada Abu Thalib agar benar-benar melindungi beliau dan segera mengajaknya kembali pulang, karena khawatir terjadi sesuatu bila bertemu dengan orang Yahudi.
Dalam perjalanan bersama pamannya, Nabi mendapat pengalaman dan wawasan yang berguna. Beliau dapat melihat luasnya padang pasir, menatap bintang-bintang yang berkilauan di langit yang jernih cemerlang. Dilaluinya daerah-daerah Madyan, Wadit’l-Qura serta peninggalan bangunan-bangunan Thamud. Didengarnya segala cerita orang-orang Arab dan penduduk pedalaman tentang bangunan-bangunan itu, tentang sejarahnya masa lampau. Dalam perjalanan ke daerah Syam ini ia berhenti di kebun-kebun yang lebat dengan buab-buahan yang sudah masak, yang akan membuat ia lupa akan kebun-kebun di Ta’if serta segala cerita orang tentang itu. Taman-taman yang dilihatnya dibandingkannya dengan dataran pasir yang gersang dan gunung-gunung tandus di sekeliling Mekah itu.
 Di Syam Muhammad mengetahui berita-berita tentang Kerajaan Rumawi dan agama Kristennya, didengarnya berita tentang Kitab Suci mereka serta oposisi Persia dari penyembah api terhadap mereka dan persiapannya menghadapi perang dengan Persia. Sekalipun usianya baru dua belas tahun, tapi dia sudah mempunyai persiapan kebesaran jiwa, kecerdasan otak, tinjauan yang begitu dalam, ingatan yang cukup kuat, serta segala sifat-sifat semacam itu yang diberikan Allah kepadanya sebagai suatu persiapan akan menerima risalah (misi) maha besar yang sedang menantinya. Ia melihat ke sekeliling, dengan sikap menyelidiki, meneliti. Ia tidak puas terhadap segala yang didengar dan dilihatnya.
Muhammad yang tinggal dengan pamannya, menerima apa adanya. Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka yang seusia dia. Bila tiba bulan-bulan suci, kadang ia tinggal di Mekah dengan keluarga, kadang pergi bersama mereka ke pekan-pekan yang berdekatan dengan ‘Ukaz, Majanna dan Dhu’l-Majaz, mendengarkan sajak-sajak yang dibawakan oleh penyair-penyair Mudhahhabat dan Mu’allaqat, yang melukiskan lagu cinta dan puisi-puisi kebanggaan, melukiskan nenek moyang mereka, peperangan mereka, kemurahan hati dan jasa-jasa mereka. Didengarnya ahli-ahli pidato di antaranya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang membenci paganisma Arab. Mereka bicara tentang Kitab-kitab Suci Isa dan Musa, dan mengajak kepada kebenaran menurut keyakinan mereka. Dinilainya semua itu dengan hati nuraninya, dilihatnya ini lebih baik daripada paganisma yang telah menghanyutkan keluarganya itu. Tetapi tidak sepenuhnya ia merasa lega.
Dengan demikian sejak muda-belia takdir telah mengantarkannya ke jurusan yang akan membawanya ke suatu saat bersejarah, saat mula pertama datangnya wahyu, tatkala Tuhan memerintahkan ia menyampaikan risalahNya itu. Yakni risalah kebenaran dan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Kalau Muhammad sudah mengenal seluk-beluk jalan padang pasir dengan pamannya Abu Talib, sudah mendengar para penyair, ahli-ahli pidato membacakan sajak-sajak dan pidato-pidato dengan keluarganya dulu di pekan sekitar Mekah selama bulan-bulan suci, maka ia juga telah mengenal arti memanggul senjata, ketika ia mendampingi paman-pamannya dalam Perang Fijar.
Muhammad mengikuti perang Harbul Fijar keempat pada usia 14 tahun, usia yang sangat muda yang jarang dilakukan oleh remaja Arab pada saat itu. Perang Harbul Fijar, yakni perang yang memecahkan kesucian dan beliau berperan aktif. Perang Fijar bermula dari peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Barradz bin Qais dari kabilah Kinana kepada ‘Urwa ar-Rahhal bin ‘Utba dari kabilah Hawazin pada bulan suci yang sebenarnya dilarang untuk berperang. Seorang pedagang, Nu’man bin’l-Mundhir, setiap tahun mengirimkan sebuah kafilah dari Hira ke ‘Ukaz, tidak jauh dari ‘Arafat. Barradz menginginkan membawa kafilah itu ke bawah pengawasan kabilah Kinana. Demikian juga ‘Urwa menginginkan mengiringi kafilah itu. Nu’man memilih ‘Urwa (Hawazin), dan hal ini menimbulkan kejengkelan Barradz (Kinana). Ia kemudian mengikutinya dari belakang, lalu membunuhnya dan mengambil kabilah itu. Maka terjadilah perang antara mereka itu.
Perang ini hanya beberapa hari saja setiap tahun, tetapi berlangsung selama empat tahun terus-menerus dan berakhir dengan suatu perdamaian model pedalaman, yaitu yang menderita korban manusia lebih kecil harus membayar ganti sebanyak jumlah kelebihan korban itu kepada pihak lain. Maka dengan demikian Quraisy telah membayar kompensasi sebanyak dua puluh orang Hawazin. Perang fijar ini terjadi ketika Nabi berusia antara limabelas tahun sampai duapuluh tahun. Setelah Abdul Muthalib wafat, kondisi kota Mekkah menjadi kacau balau, tidak ada lagi jaminan keamanan bagi harta maupun jiwa, hingga akhirnya para pemuka Quraisy berinisiatif untuk memulihkan kondisi keamanan kota Mekah dengan melakukan sumpah bersama yang dikenal dengan Hilful fudhul antara Bani Hasyim, Bani Zuhrah, Bani Mutholib dan Bani Asad. Muhammad banyak mendapat kepercayaan dari peduduk Mekah untuk menggembalakan kambing mereka dan hal ini merupakan persiapan dalam memimpin dan melatih berpikir untuk memimpin umatnya.
Setelah dewasa beliau berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketika Muhammad mencapai usia remaja dan berkembang menjadi seorang yang dewasa, ia mulai mempelajari ilmu bela diri dan memanah, begitupula dengan ilmu untuk menambah keterampilannya dalam berdagang. Perdagangan menjadi hal yang umum dilakukan dan dianggap sebagai salah satu pendapatan yang stabil. Muhammad menemani pamannya berdagang ke arah Utara dan secepatnya tentang kejujuran dan sifat dapat dipercaya Muhammad dalam membawa bisnis perdagangan telah meluas, membuatnya dipercaya sebagai agen penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah. 
Seseorang yang telah mendengar tentang anak muda yang sangat dipercaya dengan adalah seorang janda yang bernama Khadijah. Ia adalah seseorang yang memiliki status tinggi di suku Arab dan Khadijah sering pula mengirim barang dagangan ke berbagai pelosok daerah di tanah Arab. Reputasi Muhammad membuatnya terpesona sehingga membuat Khadijah memintanya untuk membawa serta barang-barang dagangannya dalam perdagangan. Muhammad dijanjikan olehnya akan dibayar dua kali lipat dan Khadijah sangat terkesan dengan sekembalinya Muhammad dengan keuntungan yang lebih dari biasanya. Beliau menjalankan dagangan Khadijah ke Syam, ditemani oleh budak Khadijah yang bernama Maisarah.
Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad mampu benar memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan cara perdagangan yang lebih banyak menguntungkan daripada yang dilakukan orang lain sebelumnya. Demikian juga dengan karakter yang manis dan perasaannya yang luhur ia dapat menarik kecintaan dan penghormatan Maisara kepadanya. Setelah tiba waktunya mereka akan kembali, mereka membeli segala barang dagangan dari Syam yang kira-kira akan disukai oleh Khadijah. Setelah kembali di Mekah, Muhammad bercerita dengan bahasa yang begitu fasih tentang perjalanannya serta laba yang diperolehnya, demikian juga mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah gembira dan tertarik sekali mendengarkan. sesudah itu, Maisara bercerita juga tentang Muhammad, betapa halusnya wataknya, betapa tingginya budi-pekertinya. Hal ini menambah pengetahuan Khadijah di samping yang sudah diketahuinya sebagai pemuda Mekah yang besar jasanya.
Akhirnya, Muhammad pun jatuh cinta kepada Khadijah. Pada saat inilah nabi Muhammad SAW menghabiskan masa remajanya dengan menikahi Khadijah. Pada saat itu Muhammad berusia 25 tahun sedangkan Khadijah mendekati umur 40 tahun, tetapi ia masih memiliki kecantikan yang menawan.



2 comments: